Tamu Spesial di Awal Tahun

Jakarta – Awal tahun 2012 terasa amat spesial karena keluarga besar PS Persinas ASAD mendapat kehormatan didatangi oleh salah seorang pesilat terbaik Australia. Adalah David Arief Bachsinar (30 tahun), pesilat Australia yang sengaja datang ke Padepokan PS Persinas ASAD untuk menggali ilmu dari pesilat pesilat Indonesia. Kedatangan David tidak lain atas masukan dari guru silatnya, Bapak Les Irawan, agar David memperdalam khasanah ilmu pencak silat pada PS Persinas ASAD di Jakarta.

Hal ini dapat terlaksana dengan baik atas dasar tali pertemanan antara Bapak Les Irawan dengan Bapak Ir. H. Teddy Suratmadji Msc (sekum PS Persinas ASAD) yang telah lama terjalin baik hingga akhirnya Bapak Les Irawan memercayai PS Persinas ASAD untuk menempa anak didiknya sekaligus agar ia mendapat pengalaman dan khasanah ilmu pencak silat yang tidak didapatnya di Australia.

Dalam kunjungannya ke Indonesia selama seminggu (5 s/d 13 Januari 2012) David tidak hanya melakukan latih-tanding dengan sesama pesilat pesilat PS Persinas ASAD, namun juga mempelajari tentang falsafah yang terkandung di dalamnya. Menurut kesaksian rekan rekan PS Persinas ASAD yang turut menemani David selama di Indonesia, antusiasme David untuk mengetahui ilmu pencak silat sangat tinggi. “David kesini (baca: Indonesia) bukan hanya karena ingin tahu mengenai teknik tanding pencak silat, tapi juga ia ingin tahu kaidah asimilasi antara pencak silat sport dan pencak silat tradisional,” ujar Sani Agung Widodo, salah satu rekan Persinas ASAD yang ditugasi menemani David selama di Indonesia.

“Kalau urusan kekuatan fisik, teknik dasar bertanding, David sudah diatas rata rata. Dia pernah merasakan jadi juara Thai Boxing di Australia. Yang dia inginkan di Indonesia adalah menemukan seni beladiri/pencak silat asli yang belum tercampur kaidah kaidah silat moderen. Jelas ini ada dalam pencak silat tradisional,” tambahnya.

Atas dasar inilah rekan rekan PS Persinas ASAD mengajaknya berkunjung ke Cikaret – Cianjur, Jawa Barat menemui salah satu dedengkot pendekar pencak silat, Wak Dudun. Disana ia diajari bagaimana dan apa perbedaan mencolok antara pencak silat moderen dan pencak silat tradisional.

Usaha David untuk menimba ilmu pencak silat sesungguhnya di Indonesia tidak sia sia. Disini ia berkesempatan melakukan latih tanding langsung kepada beberapa orang guru besar pencak silat tradisional. “Bagi orang bule macam David, jika mau tahu apakah suatu beladiri itu benar benar ampuh dan mematikan, dia harus tahu dan praktek langsung di lapangan. Jadi bukan sekedar tahu dari teori atau rekaman video saja,” katanya lagi.

Selama kunjungannya ke padepokan PS Persinas ASAD, satu hal yang sangat dirasakan mencolok bagi rekan rekan pelatih adalah ia selalu menghubungkan suatu teknik beladiri dengan logika. Suatu teknik beladiri dianggap baik olehnya apabila masuk akal namun efektif. “Dia tidak hanya menanyakan teknik bagaimana menjatuhkan pesilat, tetapi juga bagaimana cara menjatuhkan atlet Thai Boxing dengan kaidah beladiri yang dipunyai pencak silat,”.

Dari sisi non teknis, ia sangat salut dengan pelayanan yang diberikan oleh pihak padepokan yang sangat koperatif. Ia pun takjub dengan pesilat pesilat PS Persinas ASAD yang dianggapnya sangat religius namun tetap santun melayani tamu asing. Tidak sampai disitu, ia masih tidak percaya bahwa PS Persinas ASAD tidak pernah sekalipun memungut iuran kepada para murid/pesilatnya. Terlebih lagi melihat sarana dan pra-sarana lengkap yang dimiliki oleh PS Persinas ASAD tanpa adanya iuran wajib dari anggota PS Persinas ASAD. Bagaimana mungkin?. “That’s unbelievable,” ujarnya. Wow, sungguh pengalaman yang luar biasa, bukan begitu Dave?. © 2012 (kontributor: Sani Agung Widodo / H. Rian Widya Tenaya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *